JEHOVAH JIREH

-Sabtu, 25 Juni 2016, pukul 11:00-

Pada hari Minggu, 12 Juni 2016, saya dipercaya untuk melayani sharing di sekolah minggu untuk anak-anak kelas 4 sampai kelas 6. Temanya saat itu mengenai Jehovah Jireh.

Di kelas, ada satu anak perempuan yang kesaksian mengenai pengalaman dia yang merindukan seekor anak anjing. Dia mendoakan dengan waktu kurang lebih sekitar 2 tahun. Begitu sulitnya bagi dia karena orang tuanya tidak mengijinkan. Sampai pada akhirnya dia mendapatkannya. Namun dia hanya bisa memeliharanya selama 1 minggu dan setelah itu sang puppy meninggalkan dia karena sakit yang di deritanya. 6 bulan waktu yang anak ini butuhkan untuk bisa benar-benar melepaskan perasaan kehilangan puppy kesayangannya. Dan ketika saya akan melakukan doa penutup, anak ini minta di doakan supaya dia bisa memiliki puppy lagi.

Saat itu, di kelas tersebut, ada teman sepelayanan yang menanyakan, “kenapa Tuhan ga selalu menjawab doa kita?”. Dan saat itu, sepertinya saya belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

2 minggu telah berlalu. Dua kejadian tersebut tidak begitu saja saya lupakan. Dan tanpa saya sadari, saya dipertemukan dengan dua pemahaman dari kisah yang berbeda.

Pemahaman Pertama: Pengalaman Nabi Elia dan Bujang[1]

Ada kisah dimana Nabi Elia berdoa supaya hujan jangan turun dan hujan pun tidak turun. Lalu ia juga berdoa lagi supaya langit menurunkan hujan, dan hujan pun turun. Ada keunikan di proses doa ketika Nabi Elia meminta hujan turun. Dia meminta bujangnya untuk naik ke atas dan melihat ke arah laut. Bujangnya itu naik ke atas dan setelah melihatnya, bujangnya berkata, “Tidak ada apa-apa” dan Nabi Elia terus menyuruhnya sampai tujuh kali ( I Raja-Raja 18:43).

Pada ketujuh kalinya, sang bujang melihat awan kecil sebesar telapak tangan muncul dari laut (I Raja-Raja 18:44). Coba bayangkan kalau kita di posisi sang bujang atau kita yang menjadi nabi Elia.

Sikap Nabi Elia

Mungkin kita akan berhenti berdoa di doa ketiga, kelima, atau keenam. Dan asumsi kita pun mulai ”berlari-lari” di pikiran kita. “Mungkin saya salah mendengar”. Atau “Sepertinya Allah ingin kita belajar sesuatu”. Pikiran lainnya mengatakan, “Allah ga suka dengan perilaku jahat Israel. Jadi ini hukuman buat Israel”.

Lambat laun iman kita mungkin lemah dan hilang. Doa kita pun jadi doa yang kosong, doa yang tidak ada harapan. John Bevere mengatakan ini, “Doa dan iman tanpa tindakan yang selaras tidak lain hanyalah tindakan agamawi yang membuang-buang waktu. Bertekun dalam doa berarti hati, pikiran, jiwa, dan tubuh Anda bertekad untuk menerima, dan Anda bertindak selaras dengan itu. Karena Anda yakin bahwa Anda bertindak menurut kehendak Allah, Anda tidak mau menerima jawaban tidak. Anda tahu bahwa keadaan dan suasana dapat dan harus berubah.”

Sikap Sang Bujang

Coba lihat telapak tangan kita dan awan di langit saat ini. Terasa sekali perbedaannya ya. Dan bayangkan kita di posisi sang bujang, melihat awan kecil sebesar telapak tangan. Bolak balik, turun naik gunung disuruh Nabi Elia. Mungkin kita sudah capek hati, dalam hati mungkin bilang, “Ini nabi Elia ga dengar apa yang gue bilang. Berkali-kali dibilang ga ada. Heran deh, ga ngerti juga. Bilangnya sekali lagi suruh naik. Ni mah lebih dari sekali. Naik sendiri saja sana” (I Raja-Raja 18:43). Dan bisa jadi kita tidak akan bisa melihat awan kecil itu ketika muncul dari laut.

Sang bujang benar-benar seorang hamba yang luar biasa. Naik turun ke puncak Gunung Karmel pasti sungguh melelahkan. Apalagi Elia berkata, “Pergilah sekali lagi”. Sedangkan faktanya yang terjadi lebih dari sekali. Tujuh kali! Butuh respon hati hamba yang taat seperti ini. Bukan hanya Elia saja yang tekun berdoa, tetapi juga membutuhkan porsi ketaatan yang sama dari pertama sampai terakhir kali seperti sang bujang.

Untungnya bukan kita yang menjadi sang bujang dan Nabi Elia. Tentunya cerita di alkitab akan berbeda ^_^

Mungkin bagi kita, awan kecil seukuran telapak tangan tidak dapat menghasilkan hujan seperti yang di doakan Elia. Tapi bagi Elia itu sangat cukup. Elia menghentikan permohonannya dan mulai bertindak karena dia tahu doa nya sudah terjawab.

How about us?

Apakah kita akan tetap tekun berdoa? Tetap memiliki iman yang sama seperti pertama kali? Percaya bahwa sang Jehovah Jireh akan menyediakan seperti doa kita?

Yakobus mengingatkan doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Kuncinya tidak hanya di “doa orang benar” tetapi juga harus “yakin didoakan”.

Yakobus pun juga mengatakan bahwa Elia adalah manusia biasa seperti kita. Tuhan menjawab doa Elia bukan karena posisi dia sebagai nabi tapi karena kesungguhannya (Yakobus 5:17-18). Kesungguhan Elia berdoa dan selaras dengan ketaatan sang bujang membuat jawaban itu muncul meski hanya sebesar “telapak tangan”. Butuh iman untuk memahami bahwa awan kecil pun bisa mendatangkan hujan.

Pemahaman 2: Seorang Manja[2]

Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam 2 tanaman pada lahan yang sama.

Tanaman pertama disirami secara rutin tiap pagi sore, sedangkan tanaman kedua disirami 2 hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tersebut.

Perbedaannya cukup mencolok. Dibutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk mencabut akar dari tanaman pertama. Sedangkan tanaman kedua, dibutuhkan waktu lebih lama yaitu 4 menit untuk bisa mencabutnya!

Mengapa hal itu terjadi?

Tanaman pertama cukup dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari ke tanah yang lebih dalam. Sedangkan tanaman kedua, karena mendapat suplai air yang lebih sedikit, mau tak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Cara Tuhan mendidik kita tak jauh berbeda dengan ilustrasi tersebut. Bayangkan saja jika Tuhan memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa yang kita minta atau tak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah hidup.

Tentu ini akan membuat kita menjadi orang yang manja dan cengeng. Akibatnya akar iman kita tidak kuat dan ketika permasalahan terjadi, dengan mudahnya kehidupan kita tumbang. Tuhan sangat mengasihi kita. Itu sebabnya Dia selalu mendewasakan dan melatih akar iman kita.

Mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup, atau keadaan yang tidak menyenangkan, dengan harapan bahwa akar iman kita terus mencari sumber yang sejati.

Jangan manja, meski Tuhan sangat baik kepada kita.

Namun kebaikanNya bukan untuk memberikan semua yang kita inginkan, melainkan untuk mengatur yang terbaik bagi kita. Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dan memiliki akar iman yang rapuh.

 

[1] John Bevere – Tak Kenal Menyerah

[2] Sumber Abela from Manna.Sorgawi

Tags: , , , , , ,

About The Courier of God

Saya ingin berbagi kerinduan akan apa yang saya dapat dari Bapa mengenai hatiNya, pikiranNya, rencanaNya..Saya hanya seorang kurir yang membawa pesanNya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Faith, Hope, and Joice

Just another WordPress.com site

Reniwan Agustina Purba

Just another WordPress.com site

Just another WordPress.com site

the mega's notes

Just another WordPress.com site

Within Takapipi

Just another WordPress.com site

Eternal Love

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: