Review Buku Nothing is Impossible

This slideshow requires JavaScript.

Buku ini ditulis oleh Juan Mogi, Gembala dari GBI Gilgal yang mengisahkan tentang iman dalam menantikan seorang anak dan pekerjaan tangan Tuhan yang luar biasa untuk menggenapinya. Proses penantiannya bersama istrinya memakan waktu yang tidak sebentar, bertahun-tahun dengan banyak up and down. Dan kita bisa belajar dari kesaksian mereka.

Ketika kita ingin mengalami hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, sebelumnya kita perlu memahami tujuan Allah di dalam kehidupan kita. Jika kita menginginkan sesuatu dengan tujuan dan motivasi yang benar serta sesuai dengan Firman Tuhan, Tuhan pasti akan mendukung. Juan Mogi mengingatkan kita bahwa, ”perbedaan antara yang mustahil dan tidak mustahil terletak pada iman seseorang” dan kita perlu mengetahui mengenai prinsip iman.

Semua anak-anak Tuhan pun mengetahui iman timbul dari pendengaran Firman Tuhan. Seringkali anak-anak Tuhan mengalami hambatan pertumbuhan iman karena mencocokan setiap Firman dengan logika. Kita perlu sadar bahwa iman membantu kita untuk memahami apa yang tidak dimengerti oleh logika. Sedikit keraguan akan “merusak” iman itu sendiri. Iman itu perkara kejadian sekarang, bukan nanti. Kalau sekarang kita ragu, kita yang menghambat terjadinya mujizat dari iman itu tersendiri. Memang tidak mudah karena kita selalu dipertemukan dengan fakta yang kita lihat, dengar dan alami. Sayangnya semua itu seringkali bertentangan dengan iman dan Firman Tuhan yang kita yakini.

Kita perlu menyadari, ada kasih dan kuasa Allah di dalam iman. Bukti kita berjalan dalam iman adalah ketika kita percaya setiap apa yang disampaikan Firman Tuhan karena Firman Tuhan adalah perkataanNya. Percaya di sini adalah melakukan tindakan secara aktif akan apa yang disampaikan oleh Firman. Dan pastikan kita tidak hanya meminta yang sesuai dengan Firman Tuhan tapi juga meminta dengan tekun.

Sebelum kita menerima penggenapan janjiNya, kita perlu memahami apa arti menerima. Menerima berhubungan dengan sikap hati. Sikap hati yang benar di hadapan Tuhan yang perlu terus kita jaga. Kita pun perlu memahami menerima tidak hanya diam tapi ada sikap aktif yang terus mengejar dengan tekun dan sabar. Di dalam masa penantian, kita melakukan bagian kita.

Hati-hati dengan apa yang kita lepaskan dari perkataan dan mulut kita. Perkataan kita memiliki kuasa. Perkataan kita bukan hanya mengungkapkan isi hati tetapi juga menguasai isi hati kita. Pengakuan kita membuktikan iman kita atau kurangnya iman kita.

Ada banyak penghalang yang menyebabkan kita tidak bisa melihat perjalanan iman kita. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah kita harus belajar memvisualisasikan apa yang kita yakini. Apa yang terus menerus kita fokuskan akan cenderung semakin kuat sedangkan apa yang kita abaikan akan cenderung menjadi semakin lemah. Visualisasikan setiap Firman Tuhan yang menjadi rhema di dalam diri kita.

Perlu kita ingat, mujizat iman terkait dengan pujian. Naikkan ucapan syukur dan pujian bagi Allah secara tulus dan dengan sikap hati yang benar akan menguatkan pertumbuhan iman kita. Pujian dan iman tidak bisa dipisahkan dan akan selalu terhubung.

Dan pastikan doa dan percaya kita sama kuatnya. Seringkali kita begitu yakin dan kuat ketika berdoa namun ketika kita mulai melakukan aktivitas kita dan menemui fakta-fakta yang terjadi, percaya kita cenderung goyah dan kita mulai tidak yakin. Posisi kekuatan percaya kita berubah ketika kita berdoa dan selesai berdoa. Jangan biarkan ketidakyakinan melemahkan kekuatan kepercayaan kita.

Sediakan waktu di dalam diri kita untuk melakukan puasa. Sadarilah tidak ada waktu nyaman atau waktu baik untuk melakukan berpuasa. Puasa akan menerobos setiap hal yang menghalangi kita di dalam segala aspek.

Nikmatilah setiap proses penantian dan perjalanan iman kita karena setiap proses tersebut yang membentuk kehidupan kita, menumbuhkan kedewasaan yang semakin utuh dan penuh. Setiap proses memiliki tujuan untuk menghasilkan buah. Proses yang benar membuat kita menghasilkan buah yang benar. Dan proses yang benar hanya terjadi ketika kita mau berubah. Perubahan bukan hal yang mudah bagi banyak orang karena ada ketidaknyamanan melepaskan kebiasaan yang selama ini dijalani. Butuh adaptasi dan seringkali orang ingin menyerah atau kembali ke kebiasaan lama karena begitu sulitnya membuat pola baru menetap dan mejadi kebiasaan kita. Karena hanya proses yang mampu membentuk karakter dan tabiat kita.

Tidak dipungkiri rasa takut pasti ada di dalam diri kita tetapi ketika pengharapan itu ada, rasa takut akan bisa dikalahkan. Jangan pernah kehilangan pengharapan apapun kondisinya. Pengharapan menunjukkan bahwa kita berserah dan percaya secara utuh dan penuh akan diriNya yang tidak meninggalkan kita menjalani proses ini sendiri.

Tags: , , , , , ,

About The Courier of God

Saya ingin berbagi kerinduan akan apa yang saya dapat dari Bapa mengenai hatiNya, pikiranNya, rencanaNya..Saya hanya seorang kurir yang membawa pesanNya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Faith, Hope, and Joice

Just another WordPress.com site

Reniwan Agustina Purba

Just another WordPress.com site

Just another WordPress.com site

the mega's notes

Just another WordPress.com site

Within Takapipi

Just another WordPress.com site

Eternal Love

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: