Hikmat Menjamin Akhir Hidupmu Bahagia?

Kamis, 02 Januari 2014 –pukul 20:18-

Hari ini aku baca status pembina ku. Tertulis “Takut akan Tuhan adalah Permulaan Hikmat”. Kemudian aku baru selesai membaca salah satu tulisan Joyce Meyer mengenai kepatuhan. Ada hal  menarik yang ingin aku bagikan.

Kalau kita mendengar kata Hikmat, pasti tidak bisa lepas dari seseorang yang memiliki hikmat luar biasa yang pernah ada di muka bumi ini, siapa lagi kalau bukan Salomo. Pernahkah terlintas di pikiran kalian, Salomo sebagai seorang raja yang diberi keistimewaan luar biasa dari Tuhan yaitu hikmat tapi dia bisa berbuat banyak kesalahan bahkan akhir hidupnya berakhir dengan menyedihkan? Jujur ketika pertanyaan ini terlintas, ku tidak habis pikir. Hikmat dia lebih banyak dibandingkan manusia lainnya yang ada di muka bumi, bahkan kitab Penghotbah pun ditulisnya. Banyak sekali kata-kata hikmat di dalamnya. Tapi kenapa berakhir tragis seperti itu?

Jawabannya cukup sederhana, memang mungkin untuk kita memiliki sesuatu tanpa menggunakannya. Kita mempunyai pikiran Kristus karena hikmat adalah Allah itu sendiri tetapi selalukah kita menggunakannya? Kalau diperhatikan apa yang ditulis oleh Salomo itu benar adanya. Kebenaran itu sendiri. Tapi sayang sekali, di masa-masa tua dan akhir hidupnya, hikmat tersebut tidak digunakan terutama di bagian hal yang paling mendasar. Apakah itu? Takut akan Tuhan.

Proverbs 1:7 (MSG) Start with God – the first step in learning is bowing down to God; only fools thumb their noses at such wisdom and learning.

Ketika aku merenungkan Proverbs 1:7, aku teringat dengan ayat ini:

James 1:5 (KJV) if any of you lack wisdom, let him ask of God, that giveth to all men liberally, and upbraideth not; and it shall be given him.

Pada saat kita meminta hikmat kepada Tuhan, kita perlu menyadari bahwa kita juga sedang meminta rasa takut akan Tuhan. Seringkali, tanpa disadari ketika kita meminta hikmat, di dalam pikiran kita, kita memisahkan hikmat itu sendiri dan rasa takut akan Tuhan. Hikmat adalah Tuhan itu sendiri dan itu sudah menjadi kesatuan. Seringkali kita melakukan tindakan yang menurut kita hikmat tapi mungkin itu bukan hikmat karena hikmat tidak mungkin menyangkal diriNya sendiri yaitu Allah.

Sering juga kita enggan melakukan hal yang diminta Tuhan dan kemudian kita mencoba berbuat sesuatu untuk menggantikan ketidakpatuhan kita, yang mungkin menurut kita itu hikmat. Berapa banyak anak-anak Tuhan yang gagal untuk “memerintah sebagai raja dalam kehidupan”? (Roma 5:17, Wahyu 1:6). Sebagai akibat dari keras kepala dan pemberontakan kita.

Hal kedua yang perlu kita sadari, keputusan kita untuk patuh dan tidak patuh mendatangkan akibat. Akibatnya tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga ke orang lain. Contoh lainnya yang paling jelas selain kisah raja Salomo adalah kisah bangsa Israel di padang gurun. Ketidaktaatan membuat mereka mati di padang gurun. Keputusan kita untuk mematuhi Tuhan mempengaruhi orang lain, dan bila kita memutuskan untuk tidak mematuhi Tuhan, itu juga mempengaruhi orang lain. Kita boleh saja memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan memilih untuk tinggal di padang gurun, tetapi perlu diingat bahwa ada anggota keluarga kita seperti anak-anak kita, orang tua kita, pasangan kita. Keputusan kita bisa jadi menahan mereka di padang gurun bersama kita. Meski mungkin anak-anak tersebut ketika dewasa atau anggota keluarga kita yang lain bisa keluar dari padang gurun tapi mereka pernah mengalami akibat dari ketidak patuhan kita. Hal ini juga berlaku untuk diri kita pribadi, hidup kita mungkin akan lebih baik sekarang jika seseorang di masa lalu kita telah mematuhi Tuhan. Kepatuhan itu mempunyai jangkauan yang jauh.

Pikiran kita sering membawa kita ke dalam kesusahan karena ketidak patuhan kita. Pikiran kita bukanlah pikiran Dia, jalan kita bukan jalan Dia (Yesaya 55:8). Perbaharui terus pikiran kita dengan pikiranNya yaitu dengan FirmanNya (Roma 12:2). Kita harus terus memeriksa pikiran kita dengan terang FirmanNya setiap waktu. Maka dari itu jangan pernah tinggalkan kehidupan pribadi kita bersama Dia ya🙂

*Adopt from Joyce Meyer*

Tags: , ,

About The Courier of God

Saya ingin berbagi kerinduan akan apa yang saya dapat dari Bapa mengenai hatiNya, pikiranNya, rencanaNya..Saya hanya seorang kurir yang membawa pesanNya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Faith, Hope, and Joice

Just another WordPress.com site

Reniwan Agustina Purba

Just another WordPress.com site

Just another WordPress.com site

the mega's notes

Just another WordPress.com site

Within Takapipi

Just another WordPress.com site

Eternal Love

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: