KARAKTER RAJA YOSAFAT (II TAWARIKH 20:1-22)

Rabu, 22 Januari 2013 –pukul 08.30-

Hari ini aku membaca kisah Raja Yosafat di 2 Tawarikh 20:1-22. Bagi yang belum tahu mengenai kisah Raja Yosafat di bagian ini, aku ceritakan secara singkat, ceritanya kerajaan yang dipimpin Raja Yosafat akan diserang oleh Moab & Amon. Namun peperangan ini dimenangkan oleh Raja Yosafat karena pimpinan Tuhan.

Ada beberapa hal yang aku pelajari dari kisah ini:

1.       Yosafat adalah seorang raja yang bergantung pada Tuhan.

Meski Yosafat seorang raja, dia tidak menjalankan segala sesuatunya sendiri menurut kemauan dia. Dia mengandalkan Tuhan bahkan dia mengajak rakyatnya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Yosafat tidak gengsi untuk menyatakan kelemahan & ketakutannya kepada rakyatnya. Dirinya menyadari kalau dia butuh Tuhan. Jaman sekarang sulit sekali menemukan pemimpin yang mau mengakui kelemahan dan ketakutannya kepada orang-orang di bawahnya, bahkan termasuk kepada rakyatnya. Kita lebih cenderung melihat & menemukan pemimpin (atau diri kita sendiri yang menjadi pemimpin) yang tidak ingin orang lain tahu apalagi bawahan kita (termasuk rakyat) mengetahui kelemahan & ketakutan kita. Aku belajar hari ini bahwa ketakutan Yosafat adalah sisi manusia yang wajar & di dalam kelemahannya ini menunjukkan kalau dia membutuhkan Tuhan. Salah satu perkataan Yosafat yang belajar untuk aku pegang, ”Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepadaMu (2 Tawarikh 20:12)”. Di dalam ketakutan & kelemahannya ada iman berserah kepada Tuhan & tidak mengalihkan pandangannya dari Dia.

2.       Respon yang benar dari rakyatnya.

Wow, aku cuma bisa katakan ini luar biasa. Rakyatnya sama sekali tidak menghakimi atau mengintimidasi Yosafat sebagai raja. Mereka sangat menghargai perasaan sang raja, rakyat turut merasakannya serta ambil bagian dari apa yang dialami Yosafat secara pribadi. Saat ini berapa banyak dari kita turut merasakan beban pemimpin kita? Berapa banyak kita menghargai perasaan & kelemahan pemimpin? Mengerti tekanan yang pemimpin hadapi? Kita hidup di dunia yang tuntutan, masalah, intimidasi, dan tekanan yang mengelilingi kita. Tidak jarang penghakiman & pengumpatan jauh lebih banyak keluar dari mulut kita & sikap kita. Seharusnya kita bisa mendukung & belajar menanggung beban sesama kita & pemimpin kita. Hari ini aku belajar mengenai respon yang benar terhadap orang lain khususnya pemimpin kita & tunduk atas otoritas di atas kita. Sampai saat ini aku masih belajar. Belajar memiliki karakter sonship untuk menjadi bagian dalam hidupku.

3.       Kuasa kesepakatan doa & puasa.

Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika saat ini kita hidup sebagai bangsa yang takut Tuhan. Adanya kesepakatan dalam 1 bangsa. Saat ini jangankan 1 bangsa, bersepakat untuk 1 komunitas atau dalam 2-3 orang saja mungkin tidak semua mampu melakukannya. Perbedaan pendapat, pandangan dan cara seringkali membuat kita sulit untuk sepakat. Salah satu hal yang aku pelajari mengenai kesepakatan adalah belajar mengakui sisi lemah kita & belajar menghargai ketakutan, kelemahan serta pergumulan orang lain. Meski menurut kita hal tersebut adalah hal yang mudah bagi kita, belum tentu bagi orang lain yang mengalaminya. Bukankah seharusnya yang kuat menopang yang lemah? Bukankah kita adalah anggota tubuh Kristus yang hidup dengan saling menopang satu sama lain? Sampai saat ini, aku masih belajar akan hal ini. Aku mengajak & men-encourage teman-teman buat kita belajar melakukannya supaya kuasa kesepakatan itu terjadi dalam kehidupan kita.

4.       Yosafat berunding dengan rakyatnya.

Meski Yosafat dan rakyatnya sudah melakukan doa & puasa (sepakat dalam alam roh), Yosafat tetap berunding dengan rakyatnya (ayat 21). Yosafat melibatkan rakyatnya dalam pengambilan keputusan. Yosafat juga tetap tunduk akan fungsi dan otoritas dari imam lewi. Sikap Yosafat ini menunjukkan bahwa Yosafat adalah pribadi yang rendah hati. Dia menyadari meski dia adalah seorang pemimpin yang dapat bertindak apa saja dengan otoritas yang dimilikinya, dia tetap menghargai fungsi setiap bagian di dalam pemerintahannya dan juga tetap melibatkan rakyatnya dalam pengambilan keputusan. Kuasa kesepakatan menghasilkan kesatuan yang mendatangkan kemenangan.

– Percayalah kepada Tuhan, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabiNya dan kamu akan berhasil (2 Tawarikh 20:20) –

Tags:

About The Courier of God

Saya ingin berbagi kerinduan akan apa yang saya dapat dari Bapa mengenai hatiNya, pikiranNya, rencanaNya..Saya hanya seorang kurir yang membawa pesanNya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Faith, Hope, and Joice

Just another WordPress.com site

Reniwan Agustina Purba

Just another WordPress.com site

Just another WordPress.com site

the mega's notes

Just another WordPress.com site

Within Takapipi

Just another WordPress.com site

Eternal Love

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: