JEHOVAH JIREH

-Sabtu, 25 Juni 2016, pukul 11:00-

Pada hari Minggu, 12 Juni 2016, saya dipercaya untuk melayani sharing di sekolah minggu untuk anak-anak kelas 4 sampai kelas 6. Temanya saat itu mengenai Jehovah Jireh.

Di kelas, ada satu anak perempuan yang kesaksian mengenai pengalaman dia yang merindukan seekor anak anjing. Dia mendoakan dengan waktu kurang lebih sekitar 2 tahun. Begitu sulitnya bagi dia karena orang tuanya tidak mengijinkan. Sampai pada akhirnya dia mendapatkannya. Namun dia hanya bisa memeliharanya selama 1 minggu dan setelah itu sang puppy meninggalkan dia karena sakit yang di deritanya. 6 bulan waktu yang anak ini butuhkan untuk bisa benar-benar melepaskan perasaan kehilangan puppy kesayangannya. Dan ketika saya akan melakukan doa penutup, anak ini minta di doakan supaya dia bisa memiliki puppy lagi.

Saat itu, di kelas tersebut, ada teman sepelayanan yang menanyakan, “kenapa Tuhan ga selalu menjawab doa kita?”. Dan saat itu, sepertinya saya belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

2 minggu telah berlalu. Dua kejadian tersebut tidak begitu saja saya lupakan. Dan tanpa saya sadari, saya dipertemukan dengan dua pemahaman dari kisah yang berbeda.

Pemahaman Pertama: Pengalaman Nabi Elia dan Bujang[1]

Ada kisah dimana Nabi Elia berdoa supaya hujan jangan turun dan hujan pun tidak turun. Lalu ia juga berdoa lagi supaya langit menurunkan hujan, dan hujan pun turun. Ada keunikan di proses doa ketika Nabi Elia meminta hujan turun. Dia meminta bujangnya untuk naik ke atas dan melihat ke arah laut. Bujangnya itu naik ke atas dan setelah melihatnya, bujangnya berkata, “Tidak ada apa-apa” dan Nabi Elia terus menyuruhnya sampai tujuh kali ( I Raja-Raja 18:43).

Pada ketujuh kalinya, sang bujang melihat awan kecil sebesar telapak tangan muncul dari laut (I Raja-Raja 18:44). Coba bayangkan kalau kita di posisi sang bujang atau kita yang menjadi nabi Elia.

Sikap Nabi Elia

Mungkin kita akan berhenti berdoa di doa ketiga, kelima, atau keenam. Dan asumsi kita pun mulai ”berlari-lari” di pikiran kita. “Mungkin saya salah mendengar”. Atau “Sepertinya Allah ingin kita belajar sesuatu”. Pikiran lainnya mengatakan, “Allah ga suka dengan perilaku jahat Israel. Jadi ini hukuman buat Israel”.

Lambat laun iman kita mungkin lemah dan hilang. Doa kita pun jadi doa yang kosong, doa yang tidak ada harapan. John Bevere mengatakan ini, “Doa dan iman tanpa tindakan yang selaras tidak lain hanyalah tindakan agamawi yang membuang-buang waktu. Bertekun dalam doa berarti hati, pikiran, jiwa, dan tubuh Anda bertekad untuk menerima, dan Anda bertindak selaras dengan itu. Karena Anda yakin bahwa Anda bertindak menurut kehendak Allah, Anda tidak mau menerima jawaban tidak. Anda tahu bahwa keadaan dan suasana dapat dan harus berubah.”

Sikap Sang Bujang

Coba lihat telapak tangan kita dan awan di langit saat ini. Terasa sekali perbedaannya ya. Dan bayangkan kita di posisi sang bujang, melihat awan kecil sebesar telapak tangan. Bolak balik, turun naik gunung disuruh Nabi Elia. Mungkin kita sudah capek hati, dalam hati mungkin bilang, “Ini nabi Elia ga dengar apa yang gue bilang. Berkali-kali dibilang ga ada. Heran deh, ga ngerti juga. Bilangnya sekali lagi suruh naik. Ni mah lebih dari sekali. Naik sendiri saja sana” (I Raja-Raja 18:43). Dan bisa jadi kita tidak akan bisa melihat awan kecil itu ketika muncul dari laut.

Sang bujang benar-benar seorang hamba yang luar biasa. Naik turun ke puncak Gunung Karmel pasti sungguh melelahkan. Apalagi Elia berkata, “Pergilah sekali lagi”. Sedangkan faktanya yang terjadi lebih dari sekali. Tujuh kali! Butuh respon hati hamba yang taat seperti ini. Bukan hanya Elia saja yang tekun berdoa, tetapi juga membutuhkan porsi ketaatan yang sama dari pertama sampai terakhir kali seperti sang bujang.

Untungnya bukan kita yang menjadi sang bujang dan Nabi Elia. Tentunya cerita di alkitab akan berbeda ^_^

Mungkin bagi kita, awan kecil seukuran telapak tangan tidak dapat menghasilkan hujan seperti yang di doakan Elia. Tapi bagi Elia itu sangat cukup. Elia menghentikan permohonannya dan mulai bertindak karena dia tahu doa nya sudah terjawab.

How about us?

Apakah kita akan tetap tekun berdoa? Tetap memiliki iman yang sama seperti pertama kali? Percaya bahwa sang Jehovah Jireh akan menyediakan seperti doa kita?

Yakobus mengingatkan doa orang benar bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Kuncinya tidak hanya di “doa orang benar” tetapi juga harus “yakin didoakan”.

Yakobus pun juga mengatakan bahwa Elia adalah manusia biasa seperti kita. Tuhan menjawab doa Elia bukan karena posisi dia sebagai nabi tapi karena kesungguhannya (Yakobus 5:17-18). Kesungguhan Elia berdoa dan selaras dengan ketaatan sang bujang membuat jawaban itu muncul meski hanya sebesar “telapak tangan”. Butuh iman untuk memahami bahwa awan kecil pun bisa mendatangkan hujan.

Pemahaman 2: Seorang Manja[2]

Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam 2 tanaman pada lahan yang sama.

Tanaman pertama disirami secara rutin tiap pagi sore, sedangkan tanaman kedua disirami 2 hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tersebut.

Perbedaannya cukup mencolok. Dibutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk mencabut akar dari tanaman pertama. Sedangkan tanaman kedua, dibutuhkan waktu lebih lama yaitu 4 menit untuk bisa mencabutnya!

Mengapa hal itu terjadi?

Tanaman pertama cukup dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari ke tanah yang lebih dalam. Sedangkan tanaman kedua, karena mendapat suplai air yang lebih sedikit, mau tak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga didapati akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Cara Tuhan mendidik kita tak jauh berbeda dengan ilustrasi tersebut. Bayangkan saja jika Tuhan memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa yang kita minta atau tak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah hidup.

Tentu ini akan membuat kita menjadi orang yang manja dan cengeng. Akibatnya akar iman kita tidak kuat dan ketika permasalahan terjadi, dengan mudahnya kehidupan kita tumbang. Tuhan sangat mengasihi kita. Itu sebabnya Dia selalu mendewasakan dan melatih akar iman kita.

Mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup, atau keadaan yang tidak menyenangkan, dengan harapan bahwa akar iman kita terus mencari sumber yang sejati.

Jangan manja, meski Tuhan sangat baik kepada kita.

Namun kebaikanNya bukan untuk memberikan semua yang kita inginkan, melainkan untuk mengatur yang terbaik bagi kita. Tanpa masalah, kita hanya akan menjadi orang yang manja dan memiliki akar iman yang rapuh.

 

[1] John Bevere – Tak Kenal Menyerah

[2] Sumber Abela from Manna.Sorgawi

Anak (Gereja) yang Hilang?! – From “The Lost Church” E-Book

Baru-baru ini saya membaca e-book dari penulis favorit saya yaitu Kak Josua Iwan Wahyudi mengenai The Lost Church. Kita mungkin sering mendengar tentang anak yang hilang tetapi bagaimana jika ini berlaku dengan gereja saat ini?

Bagi kamu yang mengasihi Tuhan dan merindukan kebangkitan gereja, saya sarankan untuk membaca ebook ini. Minta hikmat Tuhan ketika kamu membacanya dan minta Roh Kudus untuk menuntun dalam memahaminya. Jangan jadikan share dari Kak Josua Iwan Wahyudi sebagai penghakiman tetapi jadikan ini evaluasi dan pengingat kita sebagai anak-anakNya yang mengasihi Yesus beserta gerejaNya. Kamu bisa juga membagikan ebook ini ke sesama anak Tuhan bahkan pemimpinmu yang kamu kasihi untuk bersama berdoa dan melakukan gerakan mengasihi gerejaNya.

Kamu bisa download atau mengunduhnya melalui link di bawah ini. Selamat membaca.  Tuhan Yesus Memberkati.

Download Free EBook “The Lost Church”

LC2

 

 

WALKING ON THE WATER

22 September 2014 –pukul 10:11-

Aku bersyukur dengan apa yang Tuhan lakukan sepanjang hidupku terutama di musim ku saat ini. Ini musim yang berat bagi ku. Musim menaklukan diri sendiri dan kondisinya saat ini aku masih belum menang, struggling, jatuh bangun berulang kali ada kalanya aku ingin keluar dari proses ini karena saking ga tahannya. Salah satu yang Tuhan lakukan adalah Dia tetap menjaga ku dengan firmanNya meskipun berulangkali aku jatuh, aku kelelahan, aku ga fokus, ataupun lagi ngaco bahkan di titik dimana ada kalanya aku ingin nyerah.

Seperti hari ini, Dia memberikan aku firman di Matius 14:22-32. Ini salah satu ayat yang sejak 2012 menemani ku, minimal 1 tahun 1x pasti jadi rhema. Dan pagi ini, Dia ingatkan aku lagi. Kali ini dengan perenungan yang berbeda.

Murid-murid begitu ketakutan ketika melihat Yesus berjalan di atas air dalam kegelapan malam karena mengira Dia hantu. Siapa juga yang kaga kaget dan parno ngeliat mahluk dalam gelap? Minimal kagetlah pastinya. Namun kejadian selanjutnya menjadi berbeda ketika Yesus meyakinkan mereka bahwa Dia bukan hantu. Dan dari sekian banyaknya murid hanya Petrus yang merespon dan respon dia luar biasa, yang menurut ku secara pribadi seperti “menantang” Yesus.

Petrus mengatakan, “jika itu Engkau, suruh aku datang kepadaMu dengan berjalan di atas air.” Wow, luar biasa sekali. Aku sampe mikir, napa Petrus mintanya dengan berjalan di atas air? Minta sesuatu yang mustahil dilakukan oleh manusia dan cuma Tuhan yang bisa. Ketika aku merenungkan bagian ini, pertanyaan lembut muncul di hatiku,”Napa kamu takut meminta hal yang mustahil?” Aku hanya bisa diam & mengatakan dengan perasaan sedih ,”karena aku ga mau melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan” lalu aku diingatkan,”Menurutmu, Petrus bisa melakukan itu karena kemampuan dia?”. Dengan sedih, aku hanya bisa menjawab,”Itu karena dia mengandalkan Engkau”.

Secara pribadi, aku bukan tipekal orang yang suka tantangan dan juga ga suka menantang orang lain dan situasi apalagi menantang Yesus untuk sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, bagiku itu sama saja mencari masalah. Tapi hari ini aku diingatkan, it’s oke untuk “menantang” Dia dengan hati yang benar. Toh, kamu “menantang” dia bukan untuk mencari gara-gara.

Aku salut dengan keberanian Petrus. Dia bisa handle rasa takutnya bahkan tidak hanya “menantang” Yesus tetapi menantang dirinya juga. Satu hal yang aku pelajari, berani MAU melakukan hal yang mustahil sama juga dengan mengandalkan Tuhan secara penuh dan utuh untuk terlibat di dalamnya. Dan aku masih sangat-sangat perlu banyak latihan untuk yang satu ini.

Ada beberapa ayat dimana aku diminta untuk aku perhatikan:

  1. Ayat 26

They were scared out of their wits. “A ghost!” they said, crying out in terror (The MSG)

They said,”It’s a ghost!” and cried out in fear (NCV)

They were terrified, “It’s a ghost,” they said, and cried out in fear (NIV)

Beberapa waktu ini aku lagi ngerasain apa yang murid-murid rasakan. Bukan karena ngeliat hantu 😀 tetapi karena tekanan.  Sampai di titik aku tidak bisa berkata-kata ketika berdoa, just cried out.

  1. Ayat 27

But Jesus immediately said to them: “Take courage! It is I. Don’t be afraid.” (NIV)

But Jesus quickly spoke to them, “Have courage! It is I. Do not be afraid.” (NCV)

But Jesus was quick to comfort them,”Courage, it’s me. Don’t be afraid” (MSG)

Dia selalu tahu kapan timingnya dan memang Dia selalu melakukannya secara tiba-tiba tetapi yang Dia lakukan selalu tepat, cepat dan comfort. Dia hanya minta untuk aku fokus sama Dia ketika badai itu menghampiri kita. Dia hanya minta untuk kita tetap teguh, tetap berani. Aku menyadari bahwa aku sangat mudah teralihkan dan kehilangan fokus ketika merasa di sekelilingku gelap.

  1. Ayat 31

Immediately Jesus reached out his hand and caught him. “You of little faith,” He said,”why did you doubt?” (NIV)

Immediately Jesus reached out his hand and caught Peter. Jesus said,”Your faith is small. Why did you doubt?” (NCV)

Jesus didn’t hesitate. He reached down and grabbed his hand. The He said,”Faint-heart, what got into you?” (MSG)

Aku diingatkan,”Kalau Aku bisa mengangkat Petrus ketika hampir tenggelam, apa kamu pikir Aku tidak bisa angkat kamu? Apa Aku akan diam saja ketika kamu berteriak minta tolong? Jangan takut hanya karena imanmu lemah. Jangan malu hanya karena kamu bimbang. Jangan terhakimi. Jangan terintimidasi.” Seperti biasanya, aku paling ga bisa ngomong apa-apa klo Dia udah bicara. Dia paling jago untuk satu hal ini.

Buat kalian yang sedang mengalami tekanan, stuck, mentok, aku encourage kalian buat merenungkan apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kalian sampai sejauh ini. Ingat setiap detail yang Dia lakukan. Duduk tenang di kakiNya and listen to Him. Aku sangat mengerti betapa sulitnya untuk tenang ketika tekanan, kegelisahan dan ketakutan lagi “menyerang” kita. Tetapi hanya dengan ketenangan kamu bisa mendengar Dia. Tetap berdoa dan worship. It’s simple things to do if you hard to remember how His kindness in your life. Percayalah penghiburanNya selalu ada di dalam kesesakan kamu.

PAHLAWAN YANG TERSEMBUNYI

Senin, 01 September 2014 –pukul 12:18-

Pandanglah ke dalam penjara dan lihatlah Paulus. Bungkuk dan rapuh, dibelenggu ke lengan seorang penjaga Roma. Lihatlah rasul Allah itu..

Hancur..tidak memiliki keluarga..tidak memiliki harta..rabun dan kelelahan..

Tidak terlihat seperti seorang pahlawan..

Tidak terdengar seperti pahlawan juga. Ia memperkenalkan dirinya sebagai orang yang paling berdosa dalam sejarah. Ia adalah seorang pembunuh orang Kristen sebelum ia menjadi seorang pemimpin Kristen. Kadang-kadang hatinya begitu berat, pena Paulus menggoreskan kata-kata di sehelai kertas. “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7:24)

Hanya surga yang tahu berapa lama ia menatap pertanyaan itu sebelum ia menemukan keberanian untuk tahan menghadapi logika dan menulis. “Aku bersyukur kepada Allah karena menyelamatkanku melalui Yesus Kristus Tuhan kita!” (Roma 7:25 –NCV).

Aku telah belajar rahasia menjadi bahagia di setiap waktu dalam apa pun yang terjadi (Filipi 4:12 –NCV)

(Source from Max Lucado – Kasih Karunia Dalam Segala Keadaan)

Terkadang kita hanya bisa menemukan pahlawan di tempat yang tersembunyi. Bahkan terkadang bentuk rupa nya tidak seperti pahlawan. Mungkin terlihat lemah. Mungkin tidak dianggap. Bahkan mungkin terlihat terbelenggu. Begitu juga dengan diri kita. Tapi tahukah kamu di setiap kita ada DNA seorang pahlawan, kita hanya perlu mencari dan mengaktifkannya. Seberapa pun lelah, hancur dan terbellenggunya dirimu, Tuhan bisa mengangkat kamu menjadi salah satu pahlawan yang dipilihNya. His mold us as Our Maker.

 

FENOMENA BIS TERAKHIR

Kamis, 08 Agustus 2014 –pukul 10.57-

Di bulan Juli kemarin saya mengalami 2x kejadian fenomena bis terakhir. Saya termasuk tipekal orang yang percaya kalau di dunia ini tidak ada yang kebetulan dan saya meyakini jika ada kejadian yang sepertinya kebetulan pasti memiliki maksud. Saya mulai menyadarinya setelah 2x kejadian di bulan yang sama.

Image from google

Kejadian pertama ketika saya mau coba menggunakan kendaraan umum di daerah BSD. Selama ini saya tidak pernah menggunakan kendaraan umum ke daerah tersebut. Hari itu saya memang berencana untuk mencobanya. Hari itu hari Sabtu menjelang sore. Informasi yang saya dapatkan untuk menggunakan bis Trans BSD yaitu tunggu di BSD Junction. Sayangnya saya belum mengetahui posisi pemberhentian tersebut ada dimana. Saya mulai menanyakan satpam di BSD Junction tapi dia tidak mengetahuinya dan mengarahkan saya ke ITC BSD. Posisi ITC BSD ada di seberang BSD Junction. Di sana saya bertanya ke satpam dan dia sempat mengatakan tidak lewat. Saya cukup kaget. Namun saya langsung terpikir untuk bertanya ke satpam bagian luar, yang suka mengatur kendaraan umum yang berada di area ITC BSD. Saya berpikir, pasti satpam tersebut lebih mengetahui kendaraan umum yang lalu lalang melewati mall tersebut. Dia mengatakan bis Trans BSD tidak turun naik penumpang di jalan area tersebut dikarenakan area tersebut sudah menjadi jatah angkot. Saat itu saya hanya terpikir harus mencari pool nya dan dia mengarahkan lokasinya serta arah mana yang saya lalui.

Saat itu saya sempat bingung karena saya masih buta jalan mana yang sesuai dengan arah yang saya tuju. Akhirnya saya memutuskan untuk coba jalan kaki ke arah yang dimaksud sambil mencari orang yang bisa saya tanyakan. Saya tipekal yang memilih orang ketika saya bertanya. Saya bertemu dengan seorang wanita muda yang sedang menunggu jemputan. Pada dasarnya dia tidak mengetahui secara pasti, dia hanya memperkirakan. Dengan informasi seadanya dan sempat membuat saya bingung karena nama lokasinya bukan nama jalan atau daerah dan angkot yang mengarah ke lokasi pool bis trans bsd tidak menggunakan nomor tapi menggunakan warna angkot yang harus saya perhatikan supaya saya tidak salah naik. Akhirnya saya mengikuti petunjuk tersebut. Kondisi cuaca saat itu tiba-tiba hujan.

Kejadian ini mengingatkan saya 7 tahun lalu ketika saya harus pertama kali ke daerah Cikarang, Bekasi dan di sana ada bis yang tidak menggunakan nomor tapi dinamakan bis ¾ (hahaha udah kayak Harry Potter saja ya :D). Akhirnya saya menemukan angkot tersebut dan bisa ke pool bis trans bsd dengan selamat. Selama di perjalanan angkot tersebut saya juga menemukan wanita muda yang salah naik angkot, kasihan pakaiannya sudah basah kuyup karena hujan deras. Saya sempat berbincang sejenak dengan wanita sebelah saya yang ternyata turun di lokasi yang sama dengan saya. Sampai di pool bis trans bsd, ternyata itu adalah bis terakhir dimana 5 menit lagi bis akan berangkat. Praise The Lord. Jika dihitung-hitung 1,5 jam saya mencari bis tersebut.

Kejadian kedua adalah di malam takbiran. Sore itu setelah saya meeting di daerah Industri, saya pulang dengan menggunakan bis transjakarta dari halte jembatan merah. Saya baru 2 bulan ke daerah tersebut dan beberapa kali saya naik bis transjakarta dari situ. Hari itu saya baru tahu bahwa ternyata ada rute lain selain rute yang saya tuju. Saya baru mengetahuinya ketika saya salah naik bis. Saya naik bis ke arah Rawamangun padahal saya mau ke Senen. Sampai di halte Senen, saya ngobrol sejenak  dengan petugas trans. Awalnya saya hanya bertanya kenapa bis di hari itu sedikit sekali karena saya pikir apakah ini ada pengaruhnya dengan liburan. Dan dari obrolan tersebut, saya baru tahu kalau 15 menit lagi halte transjakarta akan tutup. Saya sempat kaget. Praise The Lord, lagi-lagi saya hampir ketinggalan bis. Saya yang terbiasa planning, hari itu saya “kelolosan” tidak mengecek jam operasional bis transjakarta.

Malam itu saya sangat bersyukur dengan penjagaan, perlindungan dan kasih karuniaNya. Saya merenungkan selama perjalanan pulang di dalam bis. Apapun yang ada pada kita tidak bisa kita andalkan. Dari 2 kejadian ini, Dia menyatakan diriNya lewat campur tanganNya. Saya juga diingatkan bahwa di dalam kehidupan terkadang ada “bis terakhir” di dalam masa musim hidup kita. Kita perlu kepekaan untuk mengenal hal tersebut. Jika tidak, bisa saja itu “bis terakhir” dalam kehidupan kita dan kesempatan itu tidak ada lagi. Kehidupan yang kita jalani itu berlomba dengan waktu. Tanpa campur tanganNya kesempatan itu bisa saja lewat.

Dari banyak bertemu dan bertanya dengan orang-orang selama mencari bis, dengan informasi seadanya, saya jadi menyadari, bisa saja kita bertemu dan bertanya dengan orang yang salah. Informasi yang salah atau hanya ada informasi yang seadanya. Terkadang kita tidak tahu apa orang itu benar atau tidak, apa informasi yang disampaikan itu tepat atau tidak. Sekali lagi di sini kita butuh campur tangan Tuhan untuk bisa mengenal orang seperti apa yang perlu kita temui. Informasi apa yang bisa kita percayai untuk kita gunakan dan tidak.

Maka dari itu sangat dibutuhkan untuk kita mengetahui tujuan yang perlu kita tuju. Tujuan yang membantu kita untuk memilah orang seperti apa yang perlu kita tanya dan informasi tersebut bisa kita gunakan atau tidak. Dengan tidak adanya tujuan, hidup kita akan cenderung memutar-mutar tanpa tentu arah. Akan sangat melelahkan. Sebenarnya mencapai tujuan kita pun juga bukan pekerjaan mudah dan melelahkan tapi lebih baik melelahkan untuk mencapai tujuan dibandingkan lelah karena memutar-mutar tanpa tentu arah karena tidak mengetahui apa yang dituju.

So tetaplah berdoa dan melekat kepadaNya supaya kita bisa memiliki kepekaan akan Dia dan kepekaan untuk mengenal apa yang sedang kita hadapi. Jangan sampai terlambat. Waktu adalah uang dan ada “nyawa” kita ada di dalamnya. Gunakan waktu yang disediakan sebaik mungkin. Jangan sia-siakan karena ketika kita menyia-nyiakan waktu, itu sama saja kita membuang sebagian “nyawa” kita dan jangan bermain-main dengan kasih karuniaNya yang disediakan bagi kita.

Review Buku Nothing is Impossible

This slideshow requires JavaScript.

Buku ini ditulis oleh Juan Mogi, Gembala dari GBI Gilgal yang mengisahkan tentang iman dalam menantikan seorang anak dan pekerjaan tangan Tuhan yang luar biasa untuk menggenapinya. Proses penantiannya bersama istrinya memakan waktu yang tidak sebentar, bertahun-tahun dengan banyak up and down. Dan kita bisa belajar dari kesaksian mereka.

Ketika kita ingin mengalami hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, sebelumnya kita perlu memahami tujuan Allah di dalam kehidupan kita. Jika kita menginginkan sesuatu dengan tujuan dan motivasi yang benar serta sesuai dengan Firman Tuhan, Tuhan pasti akan mendukung. Juan Mogi mengingatkan kita bahwa, ”perbedaan antara yang mustahil dan tidak mustahil terletak pada iman seseorang” dan kita perlu mengetahui mengenai prinsip iman.

Semua anak-anak Tuhan pun mengetahui iman timbul dari pendengaran Firman Tuhan. Seringkali anak-anak Tuhan mengalami hambatan pertumbuhan iman karena mencocokan setiap Firman dengan logika. Kita perlu sadar bahwa iman membantu kita untuk memahami apa yang tidak dimengerti oleh logika. Sedikit keraguan akan “merusak” iman itu sendiri. Iman itu perkara kejadian sekarang, bukan nanti. Kalau sekarang kita ragu, kita yang menghambat terjadinya mujizat dari iman itu tersendiri. Memang tidak mudah karena kita selalu dipertemukan dengan fakta yang kita lihat, dengar dan alami. Sayangnya semua itu seringkali bertentangan dengan iman dan Firman Tuhan yang kita yakini.

Kita perlu menyadari, ada kasih dan kuasa Allah di dalam iman. Bukti kita berjalan dalam iman adalah ketika kita percaya setiap apa yang disampaikan Firman Tuhan karena Firman Tuhan adalah perkataanNya. Percaya di sini adalah melakukan tindakan secara aktif akan apa yang disampaikan oleh Firman. Dan pastikan kita tidak hanya meminta yang sesuai dengan Firman Tuhan tapi juga meminta dengan tekun.

Sebelum kita menerima penggenapan janjiNya, kita perlu memahami apa arti menerima. Menerima berhubungan dengan sikap hati. Sikap hati yang benar di hadapan Tuhan yang perlu terus kita jaga. Kita pun perlu memahami menerima tidak hanya diam tapi ada sikap aktif yang terus mengejar dengan tekun dan sabar. Di dalam masa penantian, kita melakukan bagian kita.

Hati-hati dengan apa yang kita lepaskan dari perkataan dan mulut kita. Perkataan kita memiliki kuasa. Perkataan kita bukan hanya mengungkapkan isi hati tetapi juga menguasai isi hati kita. Pengakuan kita membuktikan iman kita atau kurangnya iman kita.

Ada banyak penghalang yang menyebabkan kita tidak bisa melihat perjalanan iman kita. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah kita harus belajar memvisualisasikan apa yang kita yakini. Apa yang terus menerus kita fokuskan akan cenderung semakin kuat sedangkan apa yang kita abaikan akan cenderung menjadi semakin lemah. Visualisasikan setiap Firman Tuhan yang menjadi rhema di dalam diri kita.

Perlu kita ingat, mujizat iman terkait dengan pujian. Naikkan ucapan syukur dan pujian bagi Allah secara tulus dan dengan sikap hati yang benar akan menguatkan pertumbuhan iman kita. Pujian dan iman tidak bisa dipisahkan dan akan selalu terhubung.

Dan pastikan doa dan percaya kita sama kuatnya. Seringkali kita begitu yakin dan kuat ketika berdoa namun ketika kita mulai melakukan aktivitas kita dan menemui fakta-fakta yang terjadi, percaya kita cenderung goyah dan kita mulai tidak yakin. Posisi kekuatan percaya kita berubah ketika kita berdoa dan selesai berdoa. Jangan biarkan ketidakyakinan melemahkan kekuatan kepercayaan kita.

Sediakan waktu di dalam diri kita untuk melakukan puasa. Sadarilah tidak ada waktu nyaman atau waktu baik untuk melakukan berpuasa. Puasa akan menerobos setiap hal yang menghalangi kita di dalam segala aspek.

Nikmatilah setiap proses penantian dan perjalanan iman kita karena setiap proses tersebut yang membentuk kehidupan kita, menumbuhkan kedewasaan yang semakin utuh dan penuh. Setiap proses memiliki tujuan untuk menghasilkan buah. Proses yang benar membuat kita menghasilkan buah yang benar. Dan proses yang benar hanya terjadi ketika kita mau berubah. Perubahan bukan hal yang mudah bagi banyak orang karena ada ketidaknyamanan melepaskan kebiasaan yang selama ini dijalani. Butuh adaptasi dan seringkali orang ingin menyerah atau kembali ke kebiasaan lama karena begitu sulitnya membuat pola baru menetap dan mejadi kebiasaan kita. Karena hanya proses yang mampu membentuk karakter dan tabiat kita.

Tidak dipungkiri rasa takut pasti ada di dalam diri kita tetapi ketika pengharapan itu ada, rasa takut akan bisa dikalahkan. Jangan pernah kehilangan pengharapan apapun kondisinya. Pengharapan menunjukkan bahwa kita berserah dan percaya secara utuh dan penuh akan diriNya yang tidak meninggalkan kita menjalani proses ini sendiri.

Hikmat Menjamin Akhir Hidupmu Bahagia?

Kamis, 02 Januari 2014 –pukul 20:18-

Hari ini aku baca status pembina ku. Tertulis “Takut akan Tuhan adalah Permulaan Hikmat”. Kemudian aku baru selesai membaca salah satu tulisan Joyce Meyer mengenai kepatuhan. Ada hal  menarik yang ingin aku bagikan.

Kalau kita mendengar kata Hikmat, pasti tidak bisa lepas dari seseorang yang memiliki hikmat luar biasa yang pernah ada di muka bumi ini, siapa lagi kalau bukan Salomo. Pernahkah terlintas di pikiran kalian, Salomo sebagai seorang raja yang diberi keistimewaan luar biasa dari Tuhan yaitu hikmat tapi dia bisa berbuat banyak kesalahan bahkan akhir hidupnya berakhir dengan menyedihkan? Jujur ketika pertanyaan ini terlintas, ku tidak habis pikir. Hikmat dia lebih banyak dibandingkan manusia lainnya yang ada di muka bumi, bahkan kitab Penghotbah pun ditulisnya. Banyak sekali kata-kata hikmat di dalamnya. Tapi kenapa berakhir tragis seperti itu?

Jawabannya cukup sederhana, memang mungkin untuk kita memiliki sesuatu tanpa menggunakannya. Kita mempunyai pikiran Kristus karena hikmat adalah Allah itu sendiri tetapi selalukah kita menggunakannya? Kalau diperhatikan apa yang ditulis oleh Salomo itu benar adanya. Kebenaran itu sendiri. Tapi sayang sekali, di masa-masa tua dan akhir hidupnya, hikmat tersebut tidak digunakan terutama di bagian hal yang paling mendasar. Apakah itu? Takut akan Tuhan.

Proverbs 1:7 (MSG) Start with God – the first step in learning is bowing down to God; only fools thumb their noses at such wisdom and learning.

Ketika aku merenungkan Proverbs 1:7, aku teringat dengan ayat ini:

James 1:5 (KJV) if any of you lack wisdom, let him ask of God, that giveth to all men liberally, and upbraideth not; and it shall be given him.

Pada saat kita meminta hikmat kepada Tuhan, kita perlu menyadari bahwa kita juga sedang meminta rasa takut akan Tuhan. Seringkali, tanpa disadari ketika kita meminta hikmat, di dalam pikiran kita, kita memisahkan hikmat itu sendiri dan rasa takut akan Tuhan. Hikmat adalah Tuhan itu sendiri dan itu sudah menjadi kesatuan. Seringkali kita melakukan tindakan yang menurut kita hikmat tapi mungkin itu bukan hikmat karena hikmat tidak mungkin menyangkal diriNya sendiri yaitu Allah.

Sering juga kita enggan melakukan hal yang diminta Tuhan dan kemudian kita mencoba berbuat sesuatu untuk menggantikan ketidakpatuhan kita, yang mungkin menurut kita itu hikmat. Berapa banyak anak-anak Tuhan yang gagal untuk “memerintah sebagai raja dalam kehidupan”? (Roma 5:17, Wahyu 1:6). Sebagai akibat dari keras kepala dan pemberontakan kita.

Hal kedua yang perlu kita sadari, keputusan kita untuk patuh dan tidak patuh mendatangkan akibat. Akibatnya tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga ke orang lain. Contoh lainnya yang paling jelas selain kisah raja Salomo adalah kisah bangsa Israel di padang gurun. Ketidaktaatan membuat mereka mati di padang gurun. Keputusan kita untuk mematuhi Tuhan mempengaruhi orang lain, dan bila kita memutuskan untuk tidak mematuhi Tuhan, itu juga mempengaruhi orang lain. Kita boleh saja memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan memilih untuk tinggal di padang gurun, tetapi perlu diingat bahwa ada anggota keluarga kita seperti anak-anak kita, orang tua kita, pasangan kita. Keputusan kita bisa jadi menahan mereka di padang gurun bersama kita. Meski mungkin anak-anak tersebut ketika dewasa atau anggota keluarga kita yang lain bisa keluar dari padang gurun tapi mereka pernah mengalami akibat dari ketidak patuhan kita. Hal ini juga berlaku untuk diri kita pribadi, hidup kita mungkin akan lebih baik sekarang jika seseorang di masa lalu kita telah mematuhi Tuhan. Kepatuhan itu mempunyai jangkauan yang jauh.

Pikiran kita sering membawa kita ke dalam kesusahan karena ketidak patuhan kita. Pikiran kita bukanlah pikiran Dia, jalan kita bukan jalan Dia (Yesaya 55:8). Perbaharui terus pikiran kita dengan pikiranNya yaitu dengan FirmanNya (Roma 12:2). Kita harus terus memeriksa pikiran kita dengan terang FirmanNya setiap waktu. Maka dari itu jangan pernah tinggalkan kehidupan pribadi kita bersama Dia ya 🙂

*Adopt from Joyce Meyer*

Faith, Hope, and Joice

Just another WordPress.com site

Reniwan Agustina Purba

Just another WordPress.com site

Just another WordPress.com site

the mega's notes

Just another WordPress.com site

Within Takapipi

Just another WordPress.com site

Eternal Love

Just another WordPress.com site